Pondok Pesantren Sidogiri merupakan salah satu pesantren salaf tertua dan berpengaruh di Indonesia yang berkembang menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan kemandirian ekonomi umat berbasis tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Pendahuluan
Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) berlokasi di Jalan Raya Sidogiri, Desa Sidogiri, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pesantren ini dikenal sebagai pesantren salaf yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab turats dengan sistem sorogan dan bandongan, sambil mengembangkan lembaga pendidikan madrasah yang terstruktur. Di tingkat nasional, Sidogiri sering dirujuk sebagai model pesantren mandiri yang mampu mengintegrasikan pendidikan keagamaan, pemberdayaan santri, dan penguatan ekonomi pesantren.
Sejarah Berdiri dan Genealogi Pendiri
Sidogiri dibabat dan dijadikan pesantren oleh seorang sayyid asal Cirebon, Jawa Barat, bernama Sayyid Sulaiman pada awal abad ke-18. Secara nasab, ia merupakan keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban, putra pasangan Sayyid Abdurrahman—perantau dari Tarim, Hadramaut, Yaman—dan Syarifah Khodijah, putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati, sehingga dari garis ibu ia merupakan cucu Sunan Gunung Jati.
Menurut tradisi lokal, wilayah Sidogiri ketika itu masih berupa hutan belantara yang dianggap angker dan dihuni banyak makhluk halus, sehingga tidak pernah didatangi manusia. Dalam kurun sekitar 40 hari, Sayyid Sulaiman meratakan hutan tersebut dan mengubahnya menjadi lahan lapang yang kemudian dijadikan pondok pesantren, dengan bantuan santri sekaligus menantunya, Kiai Aminullah dari Pulau Bawean. Pemilihan Sidogiri diyakini karena tanahnya baik dan penuh keberkahan, sehingga layak dijadikan pusat pendidikan Islam.

Penetapan Tahun Berdiri
Terdapat dua versi mengenai tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri, yakni 1718 dan 1745. Catatan Panca Warga tahun 1963 menyebutkan bahwa PPS didirikan pada 1718, dan catatan ini ditandatangani oleh KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie. Namun dalam surat resmi tahun 1971 yang juga ditandatangani KA Sa’doellah Nawawie, dinyatakan bahwa tahun 1971 adalah ulang tahun ke-226 PPS, sehingga secara historis dan operasional disimpulkan bahwa tahun berdirinya adalah 1745 M atau 1158 H. Versi terakhir inilah yang dijadikan patokan peringatan hari ulang tahun (ikhtibar) PPS pada setiap akhir tahun pelajaran.
Dinamika Kepengasuhan dan Kelembagaan
Sejak awal, kepengasuhan PPS berlangsung secara estafet melalui jejaring keluarga dan menantu pendiri, yang memperlihatkan kesinambungan tradisi keilmuan dan kepemimpinan. Setelah generasi Sayyid Sulaiman (1745 M), kepengasuhan beralih kepada KH Aminullah (pertengahan abad ke-18), kemudian KH Mahalli (akhir abad ke-18), dan KH Abu Dzarrin pada awal abad ke-19 yang dikenal alim dalam ilmu nahwu–sharaf dan mengarang kitab “Sorrof Sono”. Pada awal hingga pertengahan abad ke-19, estafet dilanjutkan oleh KH Noerhasan bin Noerkhotim yang mulai merintis pengajian kitab-kitab besar seperti Ihya’ Ulumuddin, Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim serta menginisiasi pembacaan shalawat ba’da maghrib.
Kepengasuhan berikutnya dipegang KH Bahar bin Noerhasan dan adiknya KH Nawawie bin Noerhasan yang dikenal sebagai kiai khos, bahkan dimintai pendapat oleh KH Hasyim Asy’ari sebelum pendirian Nahdlatul Ulama dan kemudian menjadi Mustasyar NU. Setelah itu, tampuk kepengasuhan beralih ke KH Abd. Adzim bin Oerip, lalu KH Abd. Djalil bin Fadhil hingga 1947, diikuti KH Cholil Nawawie, KH Abd. Alim Abd. Djalil, KH A. Nawawie Abd. Djalil, dan sejak 2021 hingga sekarang diasuh oleh KH Fuad Noerhasan. Struktur kelembagaan PPS saat ini didukung Majelis Keluarga dan jajaran Pengurus Harian serta Pengurus Pelaksana yang mengelola program-program pendidikan dan nonpendidikan secara sistematis.
Perkembangan Sistem Pendidikan
Pada masa awal, sistem pendidikan PPS berorientasi pada pengajian ma’hadiyah tradisional, yakni pengajaran kitab-kitab kuning melalui metode sorogan dan bandongan. Tonggak penting terjadi ketika KH Abd. Djalil mendirikan Madrasah Miftahul Ulum (MMU) pada 14 Shafar 1357 H/15 April 1938, sehingga PPS menerapkan dua sistem sekaligus: sistem pengajian ma’hadiyah dan sistem madrasiyah (klasikal). Gedung MMU pertama dibangun sekitar 1936 dalam tempo dua tahun, yang kini dialihfungsikan menjadi perpustakaan pesantren.
Seiring perkembangan, jenjang pendidikan di MMU berkembang dari tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah (didirikan 1957), hingga Aliyah (1982) sebagai jenjang tertinggi bagi santri purna tugas. Pada 1989 dibuka tingkat Istidadiyah sebagai fase persiapan bagi santri baru, sementara lembaga-lembaga pendukung seperti Laboratorium Soal Madrasah (Labsoma), Lembaga Pengembangan Bahasa Arab dan Asing (LPBAA), dan kursus bahasa Inggris (mulai 2000) semakin memperkuat mutu akademik PPS. Data internal Sidogiri menunjukkan bahwa pada beberapa tahun terakhir, pendaftar santri baru mencapai lebih dari dua ribu orang per tahun, dengan puncak sekitar 2.363 santri baru pada periode 1443–1444 H, menggambarkan daya tarik dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.
Lembaga Penunjang, Media, dan Organisasi
PPS mengembangkan berbagai lembaga penunjang untuk memperkuat fungsi pendidikan, pembinaan, dan pelayanan santri. Perpustakaan Sidogiri berdiri sejak 1983 dengan koleksi awal berupa kitab-kitab wakaf dari KH Cholil Nawawie, kemudian tumbuh menjadi pusat rujukan literatur keislaman di lingkungan pesantren. Di bidang kesehatan, Balai Pengobatan Sidogiri berdiri sekitar 1983 (versi lain 1987) dan sejak 2004 meluaskan layanan kepada masyarakat umum.
Ragam organisasi santri juga berkembang pesat, antara lain Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) sebagai wadah kaderisasi siswa MMU Aliyah, serta Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) dan Ikatan Santri Sidogiri (ISS) yang berdiri pada 2001 untuk mengonsolidasikan peran alumni dan santri dalam dakwah serta pengabdian sosial. Di bidang media, PPS menerbitkan Majalah IJTIHAD sejak 1994 sebagai media internal, kemudian berkembang hingga puluhan media dan papan mading seperti HIMMAH, Maktabati, dan Ibtikar, yang menjadi sarana literasi, kritik, dan pengembangan gagasan santri. Keberadaan Badan Pers Pesantren (BPP) memperkuat tata kelola media agar sejalan dengan visi keilmuan dan dakwah pesantren.
Kemandirian Ekonomi Pesantren
Salah satu ciri khas PPS yang banyak dikaji dalam literatur ilmiah adalah model kemandirian ekonominya melalui Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri. Kopontren dirintis sejak 1961 oleh KA Sa’doellah Nawawie, mula-mula berupa kedai makanan dan toko kelontong sederhana, kemudian berkembang menjadi unit usaha modern, dan legal berbadan hukum sejak 15 Juli 1997. Sejumlah penelitian mencatat bahwa Kopontren Sidogiri berhasil mengembangkan jaringan ritel modern berjejaring dengan merek “Toko Basmalah” yang tersebar di berbagai daerah, menjadikannya salah satu contoh paling sukses implementasi bisnis ritel pesantren di Indonesia.
Selain sektor ritel, PPS juga mengembangkan unit usaha lain, seperti pabrik air minum dalam kemasan, produksi sarung, dan busana muslim yang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi pesantren. Kementerian Agama RI bahkan menjadikan Sidogiri sebagai salah satu model inspiratif program kemandirian pesantren, karena berhasil mengintegrasikan pendidikan, dakwah, dan usaha ekonomi secara sinergis dan berkelanjutan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kemandirian finansial dapat menopang keberlangsungan pendidikan salaf tanpa meninggalkan identitas keilmuan klasik.
Kontribusi Sosial, Dakwah, dan Alumni
Kontribusi sosial PPS tampak melalui pendirian lembaga seperti Darul Aitam Sidogiri (DAS) di Surabaya yang berfokus pada pembinaan anak yatim dan dhuafa serta secara bertahap dikelola penuh oleh pesantren. Program pengiriman dai ke daerah-daerah yang minim akses ilmu agama dimulai sekitar 1426–1427 H, menunjukkan orientasi dakwah PPS yang melampaui batas geografis pesantren. Lembaga Dana Investasi Maslahah (DIM) dibentuk pada 1433 H untuk menghimpun dana pendidikan dan dakwah, sekaligus memperkuat basis keuangan kegiatan sosial pesantren.
Jaringan alumni PPS, yang terhimpun dalam IASS, tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan mancanegara, berkiprah sebagai kiai, pendidik, akademisi, aktivis ormas, dan pelaku usaha. Melalui forum silaturahim nasional dan berbagai kegiatan ilmiah, alumni Sidogiri berperan dalam mengarusutamakan corak Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, tradisional, dan berakar kuat pada literatur klasik. Dengan demikian, peran PPS tidak hanya sebagai lembaga pendidikan internal, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial dan keagamaan.
Penutup
Secara historis, Pondok Pesantren Sidogiri merupakan institusi pendidikan Islam yang berangkat dari pembabatan hutan belantara oleh seorang sayyid keturunan Rasulullah dan berkembang konsisten sebagai pesantren salaf yang adaptif terhadap tuntutan zaman. Transformasi kelembagaan, penguatan sistem pendidikan, pemekaran lembaga penunjang, serta keberhasilan membangun kemandirian ekonomi melalui Kopontren dan jaringan Toko Basmalah menunjukkan bahwa Sidogiri mampu menggabungkan tradisi keilmuan klasik dengan manajemen modern. Dalam perspektif keilmuan, PPS layak dijadikan rujukan studi tentang pesantren salaf modern, kemandirian ekonomi pesantren, dan model pendidikan Islam yang berakar pada turats namun responsif terhadap dinamika kontemporer.(*)















